Birulangit
Bumi Sastra dan Teman Bernostalgia
Selasa, 20 Mei 2014
Fatamorgana
Di sini, di dalam gedung berlantai lima ini, Aku hanya dapat menatap gelas-gelas kosong bekas kopi di depan layar komputer hingga hari beranjak larut. Tak ada sepotong pun semburat rona mentari yang dapat ku intip di sore hari. Deretan aksara selalu memaksaku terpaku dan terus terpaku pada benda menyebalkan di atas meja kerjaku ini.
Kau tahu? Betapa kenangan akan buaian lembut angin sawah dan gemericik air sungai membuatku semakin tersiksa merindukanmu. Kota ini, beserta deretan gedung-gedung berlantai lima, tujuh, atau bahkan sepuluh, seolah memenjarakanku. Belum lagi, badai dan hujan sialan yang akhir-akhir ini tak pernah gagal membuatku membenci sore hari, saat-saat indah yang dulu sangat kita cintai. Mereka mencoba menenggelamkan segala lukisan indahku tentangmu, Senja.
Hingga malam itu, tiba-tiba aku melihatmu merekahkan senyum hangat, menyambut langkah lusuhku di ujung gang sempit kota ini. Aku ingat betul, saat itu malam telah menemui ujung. Tapi, entah mengapa kau datang menyambutku. Ini sungguh di luar kebiasaanmu.
Saat itu, ya, aku masih ingat betul, sangat ingat, jarum jam telah terhenti di angka 12. Aku baru saja mengemasi seluruh asa yang tak jua usai ku kejar meski mata telah nanar mengeja aksara demi aksara. Seketika, kelopak mataku yang telah sayu kembali bersinar saat melihat semburat jingga merekah di ujung gang kusam itu.
Apakah itu benar kau, Senja? Apa kau benar-benar datang menyambutku di ujung malam yang basah akibat hujan sialan sepanjang hari tadi? Apa kau juga merindukanku sehingga rela meninggalkan peraduanmu yang hangat dan datang lebih awal? Atau, ini hanya fatamorgana yang diciptakan oleh sepasang bola mata kelelahan milik seonggok manusia tanpa daya sepertiku?
Ah, persetan dengan semua itu. Aku tak peduli apakah kau nyata atau sebatas fatamorgana. Aku hanya ingin menyesap ronamu sedalam-dalamnya kali ini. Menghabiskan waktu dengan menatapmu lekat-lekat sembari bercerita riang tentang bunga-bunga padi yang bermekaran di sawah.
Ya, aku hanya ingin menikmati sisa malam seperti yang pernah kita lakukan di setiap sore menjelang matahari terbenam. Dan, malam itu, aku memutuskan terus berjalan. Mencoba mengejar ronamu yang menggoda di ujung gang usang sana. Namun, semakin aku mengejar, sinarmu justru kian memudar. Lalu hilang, tersapu angin malam. Aku terduduk lesu, tersadar bahwa kau hanyalah fatamorgana yang hadir saat aku merindukan Senja. Enyahlah, karena Senja-ku akan segera kembali esok hari.
Untuk Senja yang masih selalu ku rindukan,
Solo, 20 Mei 2014
Senin, 28 Februari 2011
ATHENA, SENI PENATAAN KOTA DEWA
Athena, Seni Penataan Kota Dewa
A. Pendahuluan
Sepanjang sejarah, Yunani memang lebih terkenal karena mitologinya. Kisah mengenai dewa-dewa telah menjadi sebuah kepercayaan yang khas bagi masyarakat Yunani. Kepercayaan masyarakat Yunani terhadap dewa-dewa juga tercermin dalam sistem kehidupan, kebudayaan, serta penataan kotanya. Beberapa kota di Yunani bahkan dinamai sesuai nama dewa dalam kisah mitologinya. Seperti halnya dengan penamaan kota Athena yang berasal dari nama Dewi Athena, putri dari Dewa Zeus yang juga dikenal sebagai dewi kebijakan dan strategi perang.
Dalam mitologi Yunani dikisahkan bahwa Dewi Athena pernah berperang dengan Poseidon di Erechteion untuk memperebutkan wilayah kota Athena. Dalam perjanjian perang disebutkan bahwa nama pemenang dari pertarungan akan digunakan sebagai nama kota tersebut. Pada akhirnya, Dewi Athena lah yana memenangkan pertarungan tersebut, dan namanya diabadikan sebagai nama dari kota Athena.
Dewi Athena pun diangkat sebagai pelindung kota tersebut. Sebuah monumen bernama Parthenon berisi beberapa kuil pemujaan untuk Dewi Athena pun didirikan di Acropolis, sebuah bukit yang terletak di tengah kota Athena. Acropolis juga dipercaya sebagai tempat yang biasa digunakan untuk beribadah oleh Dewi Athena.
Pembentukan kota Athena juga diperkiran berawal dari wilayah Acropolis yang mengalami perluasan. Setelah perluasan tersebut terbentuklah kota Athena, sehingga Acropolis seringkali disebut sebagai pusat kebudayaan Yunani. Acropolis berasal dari dua suku kata, yaitu ‘acro’ yang berarti bukit dan ‘polis’ yang berarti kota, sehingga Acropolis bisa diartikan sebagai kota di atas bukit. Dari Acropolis kita bisa menyaksikan keindahan dari seluruh wilayah Athena.
Meskipun Athena dikenal sebagai Dewi Strategi Perang, bukan berarti bahwa Athena merupakan kota militer seutuhnya. Athena lebih berkembang dan dikenal sebagai kota budaya. Penataan kotanya di desain dengan sangat indah dan mengagumkan. Seni arsitektur memang telah dikenal dengan baik di kota ini sejak 600 SM. Selain seni bangunan, beragam ilmu pengetahuan juga berkembang pesat di kota ini. Aristoteles dan Plato hanyalah sebagian filsuf yang lahir dari kota Athena.
Namun, dalam sejarahnya Athena juga beberapa kali mengalami perang dengan bangsa lain, seperti Sparta dan Persia. Kekuatan militer Athena juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Di Erechteion, tempat pertarungan antara Athena dan Poseidon dalam mitologi Yunani bahkan terdapat relief yang mengisahkan perang antara bangsa Yunani dan Persia.
B. Athena, Seni Penataan Kota Dewa
• Athena Kuno
Athena telah dihuni sejak periode neolitik atau sekitar akhir milenium keempat SM. Awalnya, wilayah yang dihuni dan dipertahankan adalah Acropolis. Acropolis merupakan sebuah posisi defensif alami yang bisa memerintah dataran di sekitarnya. Pemukiman Acropolis terletak sekitar 20 km (12 mil) dari pedalaman Teluk Saronic, di tengah Dataran Cephisan, sebuah lembah subur yang dikelilingi oleh sungai. Di sebeah timur terletak Gunung Hymettus dan di sebelah utara terdapat Gunung Pentelicus.
Athena kuno, dalam milenium pertama SM menempati daerah yang sangat kecil dibandingkan dengan metropolis Athena modern. Kota bertembok kuno mencakup area berukuran sekitar 2 km (1 mil) dari timur ke barat dan utara ke selatan, walaupun pada puncaknya pinggiran kota kuno melewati tembok tersebut. Acropolis terletak tepat di sebelah selatan pusat daerah berdinding tersebut. Agora dan pusat sosial komersialisasi kota terletak 400 m (1312 ft) di sebelah utara Acropolis. Wilayah tersebut sekarang digunakan sebagai Monastiraki kabupaten. Bukit Pnyx yang merupakan tempat bertemunya Majelis Athena terletak di ujung barat kota. Sungai Eridanus juga mengalir melalui kota. Seluruh wilayah kota Athena meliputi kawasan seluas 412 km 2 (159 mil ²).
Athena kuno merupakan kota yang kuat. Sebuah pusat seni, kebudayaan, filsafat. Athena juga disebut sebagai tempat kelahiran demokrasi, terutama karena dampak dari prestasi budaya dan politik selama abad ke-5 dan ke-4 SM.
Warisan dari era klasik masih terlihat di kota ini, yang diwakili oleh sejumlah monumen kuno dan karya seni. Peninggalan paling terkenal adalah Parthenon yang dianggap sebagai kunci awal peradaban barat. Kota ini juga mempertahankan berbagai monumen besar Romawi dan Bizantium, serta sejumlah kecil Ottoman yang memproyeksikan monumen sejarah panjang kota selama berabad-abad. Athena adalah rumah bagi dua situs Warisan Dunia UNESCO, yaitu Acropolis dan Biara Daphni.
Salah satu situs agama terpenting di Athena kuno adalah kuil Athena yang dikenal sebagai Parthenon dan beridiri di atas Acropolis. Dua situs keagamaan utama lainnya adalah Kuil Hephaestus dan Temple of Olympian Zeus (Olympeion) yang juga terletak di dalam tembok kota.
Athena juga merupakan sebuah pusat penting dari peradaban Mycenaean, dan Acropolis adalah tempat utama dari Mycenaean karena terdapat benteng yang masih bisa diakui sebagai bagian dari karakteristik dinding mahabesar. Pada puncak Acropolis. Di bawag Erechtheion terdapat potongan batu yang diidentifikasi sebagai lokasi istana Mybenaean. Antara tahun 1250 dan 1200 Sm sebuah tangga dibangun di suatu celah di batu untuk mencapai sumber air terlindung dalam acara yang mirip dengan yang ada di Mycenae dan Tiryns.
Plaka juga merupakan sebuah wilayah di Athena yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Plaka merupakan lingkungan paling popular di Athena, dengan jalan-jalan labirin sempit nestle ke utara - lereng timur Acropolis, gereja-gereja indah dan rumah tua. Plaka berdiri tepat di sampan kawasan Monastiraki yang berada di jantung distrik pasar Athena.
Athena tidak mengalami kerusakan akibat invasi Dorian sekitar 1200 SM seperti pusat-pusat Mycenaean lain, seperti Mycenae dan Pylos. Orang-orang Athena selalu menyatkana bahwa mereka murni terdiri dari bangsa Ionian tanpa elemen Dorian. Namun, Athena tetap mengalami penurunan ekonomi selama 150 tahun berikutnya seperti banyak pemukiman zaman perunggu lainnya.
Besi umur penguburan dalam kerameikos dan lokasi lainnya menunjukkan bahwa sejak 900 SM Athena adalah salah satu pusat terkemuka perdagangan dan kemakmuran di wilayah ini, seperti Lefkandi di Euboea dan Knossos di Kreta. Posisi ini juga mungkin dihasilkan dari lokasi pusat di dunia Yunani, kubu aman terhadap Acropolis dan akses ke laut yang memberikan keunggulan alami atas rival pedalaman seperti Thebes dan Sparta.
Menurut legenda, Athena diperintah oleh raja hingga abad ke-9 SM. Raja-raja terebut berdiri di kepala dari pemilik tanah bangsawan yang dikenal sebagai Euoatriade. Instrumen pemerintahannya adalah sebuah Dewan yang bertemu di Bukit Ares yang disebut dengan Areopagus dan menunjuk kepala pejabat kota, archons dan polemarch.
Selama periode ini, Athena berhasil membawa kota-kota lain dari Attica di bawah pemerintahannya. Proses synoikismos menciptakan negara terbesar dan terjaya di daratan Yunani, tapi juga menciptakan kelas yang lebih besar dari orang-orang yang dikeluarkan dari kehidupan politik kaum bangsawan. Pada abab ke-7 SM, kerusuhan sosial telah meluas dan Areopogus Draco ditunjuk untuk menyusun kode baru yang ketat hukum. Bila upaya ini gagal maka Solon akan ditunjuk dengan mandat untuk membuat konstitusi baru.
Pada akhir periode kota klasik, Athena mengalami penurunan akibat pertentangannya dengan Sparta yang merupakan sebuah pusat kota militer. Pemulihan baru bisa dilaksanakan pada paruh kedua Periode Bizantium (kurang lebih antara abad ke-10 SM sampai ke-9 SM). Kemudian Athena menjadi lebih makmur dalam periode Perang Salib karena adanya perdangan Italia. Pada tahun 1453, Athena kembali ditakhlukkan oleh Kekaisaran Ottoman dan memasuki suatu periode penurunan yang panjang.
• Athena Modern
Athena kemabali muncul pada abad ke-19 M sebagai ibukota negara Yunani yang merdeka. Kota ini merupakan sebuah desa dekaden tapi terpilih menjadi ibunota Yunani karena usulan Kleanthis dan Schaubert. Selain itu, pemilihan Athena sebagai ibukota berdasarkan kebutuhan yang kuat untuk menggabungkan masa lalu yang mulia dari Yunani kuno sebagai dasar negara baru.
Rencana kota baru ini mengusulkan penggabungan kota kuno di setiap sumbu kota baru. Bagian utama dari desa yang berada di Parthenon. Rencana pertama dari pembentukkan kota modern adalah segitiga yang didefinisikan oleh titik-titik penting sebagai Parthenon dan makam kuno Kerameikos atau istana baru dari Bavaria. Raja memperkenalkan gagasan tentang kelanjutan sejarah yang berhubungan antara Athena modern dengan Yunani kuno.
Aliran neoklasik yang merupakan gaya internasional zaman ini adalah gaya arsitektur melalui arsitek Bavaria dari Perancis dan Yunani, seperti Hansen, Klenze, Boulanger atau Kaftanzoglou yang merancang bangunan-bangunan publik penting pertama yang berasal dari modal baru.
Pada 1930-an, gaya internasional dan gerakan arsitektur lain seperti Bauhaus dan Art Deco mulai mengerahkan pengaruh pada hampir seluruh gaya arsitektur Yunani. Banyak bangunan negeri maupun swasta dibangun sesuai gaya ini. Daerah dengan sejumlah besar bangunan tersebut adalah Kolonaki dan beberapa wilayah di pusat kota. Lingkungan yang dikembagkan dalam periode ini termasuk Kypseli.
Pada 1950-an dan 1960-an (selama eksistensi luas dan pengembangan Athena) arsitektur modern memainkan peran yang sangat penting. Pusat Athena sebagian besar dibangun kembali dan gedung-gedung beraliran neoklasik mulai dihancurkan. Bahan-bahan bangunan yang digunakan pada arsitektur periode ini adalah kaca, marmer, dan alumunium, sementara beberapa unsur-unsur modern dan klasik dicampur. Setelah Perang Dunia II, arsitektur yang dikenal secara internasional telah dirancang dan dibangun di kota, termasuk Walter Gropins dengan desainnya untuk Kedutaan Besar Amerika Serikat, dan terminal timur Bandara Elinikon. Arsitek Yunani terkemuka pada tahun 1930-an 1960-an adalah Konstantinos Doxiadis, Dimitris Pikionis, Pericles A. Sakellarios, Aris Konstantinidis dan lain-lain.
Pada tahun 1896 Athena menjadi tuan rumah modern pertama Olimpiade. Selama tahun 1920-an sejumlah pengungsi Yunani diusir dari Asia Kecil setelah Perang Yunani-Turki (1919-1922). Akibatnya, penduduk Athena pun membengkak. Namun, hal yang paling utama setelah Perang Dunia II (dari tahun 1950-1960) adalah populasi kota meledak akibat adanya ekspansi secara bertahap ke segala arah.
Pada 1980-an, asap dari pabrik-pabrik dan mobil semakin mengingkat. Ruang bebas juga mulai menyempit karena pembangunan yang berlebih. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan terpenting dari kota. Serangkaian tindakan anti-polusi diambil di tahun 1990-an, dikombinasikan dengan sebuah peningkatan substansial dari infrastruktur kota, meliputi pembangunan jalan tol, perluasan Metro Athena, dan pembangunan Bandara Internasional Athena. Upaya tersebut terbukti efektif mengurangi polusi dan mengubah Athena menjadi kota yang jauh lebiih fungsional.
Kota Athena dibagi menjadi beberapa distrik yang meliputi Omonoia, Syntagma, Exarcheia, Agios Nikolaos, Neapolis, Lykavittos , Lofos Strefi, Lofos Finopoulou, Lofos Filopappou, Pedion Areos, Metaxourgeio, Aghios Kostantinos, Larissa Station, Kerameikos, Psiri, Monastiraki, Gazi, Thission, Kapnikarea, Irini Aghia, Aerides, Anafiotika, Plaka, Acropolis, Pnyka, Makrygianni, Lofos Ardittou, Zappeion, Aghios Spyridon, Pangration, Kolonaki, Dexameni, Evaggelismos, Gouva, Aghios Ioannis, Neos Kosmos, Koukaki, Kynosargous, Fix, Ano Petralona, Kato Petralona, Rouf, Votanikos, Profitis Daniil, Platonos Akadimia, Kolonos, Kolokynthou, Attikis, Lofos Skouze Square, Sepolia, Kypseli, Meletios Aghios, Kypseli Nea, Gyzi, Polygono, Ampelokipoi, Panormou-Gerokomeio, Pentagono, Ellinorosson, Kato Filothei, Ano Kypseli,-Lofos Patatsou Tourkovounia, Elikonos Lofos, Koliatsou, Thymarakia, Kato Patisia, Gefyres Treis, Aghios Eleftherios, Ano Patisia, Kypriadou, Prompona, Aghios Panteleimonas, Pagrati, Goudi, Ilisia.
Omonoia Square merupakan kuadrat tertua di Athena. Wilayah ini dikelilingi olhe hotel dan gerai makanan cepat saji dan berisi sebuah stasiun kereta api yang digunakan oleh Metro Athena dan Ilektrikos bernama Omonoia Stasiun. Distrik ini seringkali menjadi pusat perayaan kemenangan olahraga.
Metaxourgeio adalah lingkungan yang terletak di sebelah selatan pusat sejarah Athena, yaitu di antara Kolonos ke timur dan Kerameikos ke barar, dan utara Gazi. Wilayah ini sering digambarkan sebagai lingkungan transisi. Setelah lama ditinggalakan di akhir abad 20, daerah ini memperoleh reputasi sebagai sebuah lingkungan artistik dan modis akibat pembukaan banyak galeri seni, museum, restoran, dan kafe. Selain itu, upaya-upaya untuk mempercantik dan meperkuat lingkungan telah dilakukan dengan tunas rasa komunitas dan ekspresi artistik. Anonunous karya seni yang mengandung tanda kutip dan ucapan dalam bahasa Inggris dan Yunani Kuno telah mulai bermunculan di seluruh lingkungan, yang berisi pernyataan seperti "Seni demi seni".
Lingkungan Psiri (distrik pengepakan daging) mulai dihidupkan kembali dengan perenovasian rumah-rumah kono, ruang seni, dan area galeri kecil. Sejumlah bangunan direnovasi oleh perusahaan yang sekarang juga menjadi tuan rumah berbagai bar modis. Sementara sejumlah restoran live music yang dikenal sebagai "rebetadika", setelah rebetiko (suatu bentuk musik yang unik berkembang di Syros dan Athena dari tahun 1920 sampai tahun 1960-an) juga dapat ditemukan.
Gazi merupakan salah satu wujud pembangunan kembali yang terbaru, terletak di sekitar pabrik gas bersejarah, sekarang dikonversi ke dalam Technopolis multipleks budaya, dan juga termasuk 'daerah seniman. Sistem Ekspansi baru dari metro ke daerah pinggiran barat kota telah membawa akses yang lebih mudah ke Gazi sejak musim semi 2007, sebagai garis biru sekarang berhenti di Gazi (Kerameikos stasiun).
Syntagma Square adalah ibukota pusat dan persegi terbesar, berbaring berdekatan dengan Parlemen Yunani (bekas Royal Palace) dan kota yang paling banyak memiliki hotel. Ermou Street, merupakan jalan panjang khusus pejalan kaki yang menghubungkan Syntagma Square ke Monastiraki secara tradisional, sehingga menjadi surga konsumen untuk dari Athena dan wisatawan asing. Jalan tersebut lengkap dengan toko-toko pakaian dan pusat perbelanjaan yang mempromosikan merek internasional. Di dekatnya, terdapat Gedung Tentara Dana di Panepistimiou Street yang telah direnovasi dan mencakup "Attica".
Plaka terletak tepat di bawah Acropolis dan terkenal dengan banyak perusahaan arsitektur neoklasik yang membuat salah satu kabupaten yang paling indah di kota. Tempat ini menjadi tujuan wisata utama tradisional dengan sejumlah pemandangan indah, pertunjukan live, dan pedagang jalanan.
Monastiraki terkenal untuk banyaknya toko-toko kecil dan pasar, serta ramainya pasar loak dan tavernas yang mengkhususkan diri dalam souvlaki. Kabupaten lain terutama terkenal dengan mahasiswa yang penuh sesak di kafe yang berada di barat Monastiraki. Thission adalah rumah kuno bagi Kuil Hephaestus yang berdiri di atas bukit kecil. Kawasan ini juga memiliki sebuah gereja Byzantium abad 11 yang indah, serta sebuah masjid abad 15 bernama Ottoman.
Kolonaki merupakan daerah di dasar bukit Lycabettus yang penuh dengan butik bertumit yang melayani pelanggan dengan baik di siang hari. Bar dan restoran lebih banyak beroperasi di malam hari. Pada titik-titik lainnya juga terdapat berbagai galeri seni dan museum. Hal ini sering dianggap sebagai salah satu daerah yang lebih prestisius dari ibukota.
Exarcheia terletak di utara Kolonaki, memiliki reputasi sebagai campuran atau lokasi terbaru dari kota anarkis. Exarcheia adalah rumah bagi Politeknik Athena dan Museum Arkeologi Nasional. Selain itu juga terdapat berbagai bangunan penting gaya abad ke-20 beberapa bangunan neoklasik, Art Deco dan Awal Modernisme (termasuk Bauhaus).
C. Penutup
Athena adalah sebuah kota yang mengagumkan karena merupakan salah satu dari kota tertua di dunia yang mampu bertahan hingga detik ini. Begitu banyak filsuf, ilmuan, dan seniman yang lahir berkembang di kota ini.
Di saat kota-kota lain belum memiliki peradaban yang maju, Athena telah tumbuh dengan peradaban mengagumkan. Seni banunan dan tata kota di desain dengan sedemikian rupa hingga memiliki nilai keindahan yang tinggi. Hal tersebut membuat Athena menjadi pusat peradaban barat.
Selain dikenal sebagai kota budaya dan ilmu pengetahuan, Athena juga memiliki kekuatan militer yang baik. Berkali-kali kota ini harus menghadapi serangan dari musuh yang ingin menghancurkan peradabannya, tapi Athena membuktikan bahwa ia mampu bertahan. Athena bahkan sempat memenangkan pertarungan dengan Sparta di Marathon. Meski sempat terpuruk dan hancur akibat beberapa kali ekspansi yang dilakukan oleh bangsa lain, tapi Athena mampu bangkit dan menghidupkan peradabannya kembali.
DAFTAR PUSTAKA
en.wikipedia.org/wiki/History_of_Athens
www.athensclarkecounty.com/history/athens.htm
en.wikipedia.org/wiki/Athens
www.ancientathens.org/
www.athenscitygreece.gr/history.html
www.greek-islands.us/athens/athens-history/
http://www.notoiletpaper.com/articles/38/1/The-Ancient-city-of-Athens-/Page1.html
http://www.historyworld.net/wrldhis/PlainTextHistories.asp?historyid=ac45
http://www.mnsu.edu/emuseum/archaeology/sites/europe/athens.html
http://www.georgiaencyclopedia.org/nge/Article.jsp?id=h-2210
http://www.allgreecetravel.com/athens/
Minggu, 16 Januari 2011
“Jangan Salahkan Kami Jika Korupsi”
“Bah, mau berantas korupsi? Coba saja kalau kita yang duduk di atas sana, apa iya kita mampu menolak aliran uang sebesar itu? Korupsi kan memang budaya yang udah mendarah daging,” celoteh seorang kawan saat menghadiri peringatan hari anti korupsi beberapa waktu lalu. Sejenak saya pun tertegun, tidak bisa menerima begitu saja pendapat kawan tersebut. Hati kecil saya tetap percaya bahwa korupsi bukanlah budaya bangsa ini. Namun, tak lama kemudian kepercayaan itu akhirnya luntur. Tepatnya setelah saya menemukan bukti bahwa korupsi memang telah diciptakan oleh sistem di negeri ini.
Sedikit tercengang, ketika Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) kegiatan dari organisasi saya ditolak oleh pihak birokrat terkait. Padahal saya yakin 100% LPJ tersebut telah dibuat dengan rincian penggunaan anggaran yang tepat. Lebih tercengang lagi, ketika mereka justru meminta saya merombak rincian anggaran tersebut menjadi semakin semu. Alasannya, supaya lebih mudah diurus oleh birokrat tersebut. Aneh, itulah kata pertama yang terbersit dalam pikiran saya. Akan tetapi, hal semacam itu tampaknya telah menjadi persoalan wajar di sana. “Memang gitu kok, saya sendiri juga sering bingung sama birokrasi Indonesia. Tapi kalau sistemnya begitu ya mau gimana lagi?” ujar salah seorang pegawai Tata Usaha dalam lembaga tersebut.
Kejadian itu membuat gambaran akan korupsi yang telah membudaya menjadi semakin jelas di mata saya. Jika dari tingkat terendah dalam pemerintahan saja kita telah terbiasa dipermainkan oleh sistem birokrasi yang berunjung pada tindakan korupsi, lalu bagaimana dengan kondisi pemerintah tingkat tertinggi negri ini? Tidakkah pemalsuan angka-angka yang mereka lakukan juga semakin besar?
Sejak dulu mungkin kita telah terbiasa menuruti alur birokrasi yang rumit dan berbelit-belit. Untuk mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP) saja diperlukan waktu lebih dari satu minggu melalui sistem birokrasi berputar-putar dengan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi ketika ingin membuat Surat Ijin Mengemudi (SIM), mengurus perkara tilang, maupun kasus lain di kantor polisi. Bisa ditebak, waktu dan biaya yang diperlukan akan jauh lebih besar lagi. Mengingat hal itu, maka tidak perlu ditanyakan lagi bagaimana jalannya alur birokrasi di pemerintahan pusat. Penyusunan anggaran ‘abstrak’ maupun tradisi suap sana-sini tentu telah menjadi kebiasaan yang ‘wajar’. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kemudian cita-cita reformasi birokrasi terdengar sangat indah di telinga masyarakat.
Reformasi birokrasi yang dimaksud di sini adalah perubahan dalam tatanan birokrasi secara menyeluruh. Mulai dari tingkat terendah hingga tingkat tertinggi dalam sistem pemerintahan. Salah satu solusinya adalah dengan penerapan sistem birokrasi satu pintu. Seseorang bisa mengurus sebuah perkara di satu tempat dan keluar dari tempat yang sama, tanpa perlu dipingpong kesana-kemari. Dengan demikian kecurangan yang ‘mungkin’ dilakukan dalam sistem birokrasi diharapkan mampu diminimalisir. Seluruh tatanan sistem birokrasi memang harus dirombak guna mencapai tujuan tersebut. Karena memang tidak bisa dipungkiri, korupsi merupakan sebuah penyakit mental yang tanpa sadar tercipta dari sistem yang ada. Seringkali seseorang justru dituntut untuk melakukan korupsi oleh sistem yang berlaku.
Mungkin akan sangat sulit mengubah tatanan yang telah mendarah daging dalam tubuh birokrasi Indonesia tersebut. Mungkin juga dibutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk mewujudkan harapan itu. Namun, semua itu tidak akan pernah berjalan jika tak juga dimulai dari sekarang. Tanpa adanya reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi akan menjadi sebuah hal yang mustahil, meski koruptor-koruptor kelas kakap telah ditangkap, para makelar kasus sudah diringkus, dan mafia-mafia hukum berhasil ditumpas. Bukan tidak mungkin, jika kemudian akan muncul Gayus-Gayus baru yang terlahir dari ‘cacatnya’ sistem birokrasi yang ada.
Seperti diungkapkan oleh Thomas Hobbes, bahwa sifat dasar manusia yang tidak pernah puas terus menuntutnya menjadi binatang. Ia akan terus memangsa sebangsanya guna memuaskan rasa lapar. Terlebih jika tatanan yang ada justru mendukungnya untuk melakukan hal itu. Seolah segala kecurangan menjadi halal dan kebohongan menjadi sebuah keharusan. Sistem birokrasi semacam itulah yang kemudian menjadi payung teduh bagi para koruptor. Hingga suatu saat jika koruptor tertangkap, dengan enteng mereka bisa menjawab “Jangan salahkan kami jika korupsi, sistemlah yang mengajari kami untuk melakukan itu,” Semoga tidak.[]
Jumat, 08 Januari 2010
Kepatihan, Dari Struktur Birokrasi Kerajaan Hingga Kehidupan Sosial Masyarakat
Pendahuluan
Setelah Keraton Mataram terbagi menjadi dua, yaitu di Yogyakarta dan Surakarta melalui perjanjian Giyanti, maka secara otomatis wilayah desa Sala pun mengalami perubahan dalam bidang administratif maupun sosial masyarakat. Beberapa pejabat ataupun abdi dalem Keraton pun diberi wilayah untuk bermukim secara mengelompok sesuai dengan profesinya di sekitar desa Sala. Kampung tersebut kemudian diberi nama sesuai dengan profesi pemukimnya.
Demikian halnya dengan Kampung Kepatihan yang merupakan tempat tinggal serta kantor para Patih Keraton Kasunanan Surakarta. Awalnya, kantor para patih tersebut terletak di Pura Mangkunegaran (Sindurejan). Namun, tempat tersebut kemudian diminta oleh PA Mangkunegaran untuk dijadikan tempat tinggalnya. Kantor Kepatihan pun dipindahkan ke kampung Jayanegaran oleh Patih Dalem Raden Adipati Jayanegara. Tak lama kemudian, tepatnya pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwana VII daerah tersebut dijadikan tempat pemandian Sunan, dan kantor para patih tersebut pun kembali dipindahkan. Kepatihan kemudian menjadi perbatasan daerah Kota Mangkunegaran dan Kasunanan sejak tahun 1927. Awalnya, Kepatihan dibangun untuk Patih Kasunanan Surakarta, KRA Sastraningrat pada tahun 1769.
Letak Administrasi
Meski letaknya berada di perbatasan antara Kota Raja (Kuthagara) dengan daerah pinggiran, tapi wilayah Kepatihan memilki kondisi tanah yang cukup bagus, bahkan lebih bagus dibanding tanah yang ada di wilayah Keraton Kasunanan Surakarta. Kepatihan memiliki wilayah yang cukup luas, oleh karena itu semenjak pemerintahan beralih menjadi republik secara administratif wilayah Kepatihan terbagi menjadi dua kelurahan, yaitu Kepatihan Wetan dan Kepatihan Kulon. Pembagian tersebut berguna untuk mempermudah pengaturan administratif karena wilayahnya yang dianggap terlalu luas. Namun, sebagian besar sisa bangunan bersejarah dari Kantor Kepatihan berada di Kelurahan Kepatihan Wetan.
Kantor Patih tersebut kini digunakan sebagai tempat Konservatori Karawitan dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMK N) 8 Surakarta atau yang lebih dikenal dengan SMKI. Sedangkan sebagian rumah Patih KRA Sastraningrat yang terletak di Jalan Sangihe dipakai oleh Kantor Kejaksaan. Kini, sebagian wilayah Kepatihan lainnya digunakan untuk Kancam Dep P dan K (sekarang Diknas) Kecamatan Jebres[1].
Selain rumah dan kantor dinas, para Patih juga memiliki kandang kuda atau yang sering disebut Gedokan, tempat tersebut kini dikenal sebagai kampung Bakalan karena dianggap sebagai cikal bakal terbentuknya Kampung Kepatihan[2]. Gedokan tersebut berada disamping barat rumah Patih, atau lebih tepatnya kini ada disamping kantor Kecamatan Jebres dan Kejaksaan. Selain Bakalan, ada juga Kampung Tegalharjo, Margoyudan, serta Kepunton yang terletak di sekitar wilayah Kepatihan. Sebagian dari kampung tersebut merupakan kampung yang baru terbentuk. Kepatihan merupakan kampung tertua diantara kampung disekitarnya, bahkan mungkin termasuk kampung paling tua di Solo.
Ketika perseteruan menolak swapraja yang dilakukan oleh gerakan revolusioner semakin memuncak, para pejabat Kepatihan pun tak luput menjadi korban. Sembilan pejabat Kepatihan diculik oleh kelompok anti-swapraja yang menuntut dihapuskannnya swapraja Daerah Istimewa Solo (DIS) dan meminta PB XII turun tahta. Saat itu, priyayi sekelas patih dan bupati memilki kedudukan tinggi di masyarakat, mereka dikenal sangat mendukung segala kebijakan raja.
Pada masa Agresi Militer II tahun 1948, Kepatihan pun tak luput dari kerusuhan. Kantor serta Kediaman Patih sengaja dibakar oleh rakyat pribumi supaya tidak diduduki dan dijadikan markas oleh Belanda. Setelah kondisi keaman negara kembali stabil, Kepatihan diambil alih pemerintah Republik Indonesia (RI) karena Kasunanan mulai kehilangan kekuasaannya. Tak lama berselang terjadilah pembagian wilayah Kepatihan Kulon dan Wetan tersebut.
Kondisi Sosial Masyarakat
Meski merupakan wilayah domisili para Patih Keraton Kasunanan secara turun-temurun, tapi tak lantas seluruh penduduk yang tinggal di kampung tersebut merupakan keluarga dari Patih atau pun adbi dalem Kepatihan. Dulu kampung tersebut memang hanya dihuni oleh mereka yang masih ada hubungan darah dengan Patih ataupun bekerja di Kepatihan, tapi kini banyak juga pendatang baru dengan profesi beragam yang turut mendiami kampung tersebut. Sehingga kini, kondisi wilayah tersebut semakin padat penduduk.
Kasunanan memang telah kehilangan kuasanya atas pemerintahan, keberadaan raja, pangeran, prabu, patih, ataupun abdi dalem mungkin tak lagi berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Wilayah kekuasaan pejabat kerajaan seperti Keprabon, Punggawan, maupun Kepatihan mungkin tak lagi berfungsi seperti sedia kala. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat tetap menjunjung tinggi kebudayaan serta struktur birokrasi kerajaan yang telah dibangun dan digunakan selama bertahun-tahun lamanya, ketika Keraton Kasunanan masih memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Keluarga pejabat kerajaan atau yang sering dikenal sebagai kaum priyayi tetap memiliki tempat tersendiri di antara masyarakat. Mungkin sekarang sistem kasta sudah tidak lagi berarti, tapi kenyataan penghargaan lebih tinggi bagi para priyayi tetap saja ada.
Demikian halnya dengan yang terjadi di Kampung Kepatihan. Meskipun Kantor dan Kediaman Patih sudah tidak lagi berfungsi sebagaimana awalnya, dan patih pun sudah tidak ada. Namun, keturunan dari para patih tersebut masih memiliki tempat khusus dalam masyarakat Kampung Kepatihan. Sebagian dari mereka kini tetap tinggal di sekeliling Kantor Kepatihan yang telah beralih fungsi sebagai bangunan sekolahan tersebut. Seperti R. AJ. Roestopo Darmonagoro yang tinggal di belakang SMK N 8 Surakarta bersama anak cucunya. Kediamannya yang masih bercorak khas bangunan tradisional jawa tersebut berada dalam satu pekarangan dengan SMK N 8 Surakarta[3].
Selain itu, sebagian keluarga patih yang lain juga bertempat tingggal di sekeliling SMK N 8 meski dengan bangunan yang lebih sederhana dan moderen. Mereka pun seolah membentuk sebuah komunitas tersendiri diantara masyarakat lainnya. Komunitas bangsawan keturunan patih yang tinggal secara berkelompok. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman stigma tersebut mulai memudar. Jurang yang tercipta di tengah masyarakat pun mulai menyempit. Kini, mereka bisa hidup berdampingan walau terkadang pengakuan atas kedudukan mereka sebagai golongan bangsawan tetap lah ada, dan mungkin akan sangat sulit untuk luntur.
DAFTAR PUSTAKA
Sayid R.M. 2001. Babad Sala.
Radjiman, 1987. Toponimi Surakarta. Skripsi.
Minggu, 22 November 2009
Musim Gugur di Sastra
Ada satu hal menarik di Kampus Sastra ketika musim hujan tiba. Bukan karena rintik hujan yang jatuh, bukan pula karena semburat warna pelangi yang memang tak pernah nampak. Tapi karena guguran bunga-bunga cantik di sepanjang jalan yang ada di universitas kami.
Masih teringat jelas, setahun lalu ketika saya baru memasuki Kampus Sastra. Sedikit kecewa karena ternyata bangunan yang di sebut fakultas itu tak lebih baik dari gudang yang berantakan. Beberapa bulan berlalu, memasuki awal november musim hujan pun tiba. Pohon-pohon rindang yang biasa menaungi saya keteka berjalan di sepanjang boelevard hingga Kampus Sastra mulai berbunga. Entah bunga apa namanya. Di pengujung November, rimbunan bunga kuning itu mulai berguguran. Pernah suatu ketika saya menolak dijemput seorang teman di depan kampus karena ingin menikmati guguran bunga-bunga di sepanjang jalan menuju Sastra.
Setahun kuliah di sana, musim hujan kembali datang. Pohon yang akhirnya saya ketahui namanya tersebut mulai berbunga kembali. Ya, pohon Angsana itu membuat kampus usang saya tampak cantik. Mungkin seperti polesan make up yang tepat di wajah seorang wanita buruk rupa, sehingga membuatnya tampak lebih cantik.
Bersama seorang kawan, saya berkeliling kampus menggunakan motor. Mencoba mengobservasi setiap sudut fakultas yang ada di UNS. Setelah puas berkeliling, baru saya sadari bahwa Kampus Sastra kami menyajikan pemandangan paling indah. Hampir seluruh bagian halaman tertutup bunga kuning yang gugur dari pohonnya. Kombinasi warna hijau rumput dan kuning bunga Angsana di taman membuat mata setiap orang tak ingin beralih memandang. Hampir setiap orang yang melintas di muka fakultas usang saya berhenti untuk sekedar berfoto. Sungguh, fakultas usang saya benar-benar nampak cantik kala itu.