Selasa, 20 Mei 2014

Fatamorgana

Apa kau tahu? Gedung berlantai lima itu mulai membuatku muak. Apa kau tahu, Senja? Aku sangat merindukan semburat jingga yang selalu kau tawarkan di tengah hamparan sawah dan semilir angin sore. Tapi, rasanya hari-hari itu telah lama berlalu.
Di sini, di dalam gedung berlantai lima ini, Aku hanya dapat menatap gelas-gelas kosong bekas kopi di depan layar komputer hingga hari beranjak larut. Tak ada sepotong pun semburat rona mentari yang dapat ku intip di sore hari. Deretan aksara selalu memaksaku terpaku dan terus terpaku pada benda menyebalkan di atas meja kerjaku ini.
Kau tahu? Betapa kenangan akan buaian lembut angin sawah dan gemericik air sungai membuatku semakin tersiksa merindukanmu. Kota ini, beserta deretan gedung-gedung berlantai lima, tujuh, atau bahkan sepuluh, seolah memenjarakanku. Belum lagi, badai dan hujan sialan yang akhir-akhir ini tak pernah gagal membuatku membenci sore hari, saat-saat indah yang dulu sangat kita cintai. Mereka mencoba menenggelamkan segala lukisan indahku tentangmu, Senja.
Hingga malam itu, tiba-tiba aku melihatmu merekahkan senyum hangat, menyambut langkah lusuhku di ujung gang sempit kota ini. Aku ingat betul, saat itu malam telah menemui ujung. Tapi, entah mengapa kau datang menyambutku. Ini sungguh di luar kebiasaanmu.
Saat itu, ya, aku masih ingat betul, sangat ingat, jarum jam telah terhenti di angka 12. Aku baru saja mengemasi seluruh asa yang tak jua usai ku kejar meski mata telah nanar mengeja aksara demi aksara. Seketika, kelopak mataku yang telah sayu kembali bersinar saat melihat semburat jingga merekah di ujung gang kusam itu.
Apakah itu benar kau, Senja? Apa kau benar-benar datang menyambutku di ujung malam yang basah akibat hujan sialan sepanjang hari tadi? Apa kau juga merindukanku sehingga rela meninggalkan peraduanmu yang hangat dan datang lebih awal? Atau, ini hanya fatamorgana yang diciptakan oleh sepasang bola mata kelelahan milik seonggok manusia tanpa daya sepertiku?
Ah, persetan dengan semua itu. Aku tak peduli apakah kau nyata atau sebatas fatamorgana. Aku hanya ingin menyesap ronamu sedalam-dalamnya kali ini. Menghabiskan waktu dengan menatapmu lekat-lekat sembari bercerita riang tentang bunga-bunga padi yang bermekaran di sawah.
Ya, aku hanya ingin menikmati sisa malam seperti yang pernah kita lakukan di setiap sore menjelang matahari terbenam. Dan, malam itu, aku memutuskan terus berjalan. Mencoba mengejar ronamu yang menggoda di ujung gang usang sana. Namun, semakin aku mengejar, sinarmu justru kian memudar. Lalu hilang, tersapu angin malam. Aku terduduk lesu, tersadar bahwa kau hanyalah fatamorgana yang hadir saat aku merindukan Senja. Enyahlah, karena Senja-ku akan segera kembali esok hari.  

Untuk Senja yang masih selalu ku rindukan,
Solo, 20 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar