Ada satu hal menarik di Kampus Sastra ketika musim hujan tiba. Bukan karena rintik hujan yang jatuh, bukan pula karena semburat warna pelangi yang memang tak pernah nampak. Tapi karena guguran bunga-bunga cantik di sepanjang jalan yang ada di universitas kami.
Masih teringat jelas, setahun lalu ketika saya baru memasuki Kampus Sastra. Sedikit kecewa karena ternyata bangunan yang di sebut fakultas itu tak lebih baik dari gudang yang berantakan. Beberapa bulan berlalu, memasuki awal november musim hujan pun tiba. Pohon-pohon rindang yang biasa menaungi saya keteka berjalan di sepanjang boelevard hingga Kampus Sastra mulai berbunga. Entah bunga apa namanya. Di pengujung November, rimbunan bunga kuning itu mulai berguguran. Pernah suatu ketika saya menolak dijemput seorang teman di depan kampus karena ingin menikmati guguran bunga-bunga di sepanjang jalan menuju Sastra.
Setahun kuliah di sana, musim hujan kembali datang. Pohon yang akhirnya saya ketahui namanya tersebut mulai berbunga kembali. Ya, pohon Angsana itu membuat kampus usang saya tampak cantik. Mungkin seperti polesan make up yang tepat di wajah seorang wanita buruk rupa, sehingga membuatnya tampak lebih cantik.
Bersama seorang kawan, saya berkeliling kampus menggunakan motor. Mencoba mengobservasi setiap sudut fakultas yang ada di UNS. Setelah puas berkeliling, baru saya sadari bahwa Kampus Sastra kami menyajikan pemandangan paling indah. Hampir seluruh bagian halaman tertutup bunga kuning yang gugur dari pohonnya. Kombinasi warna hijau rumput dan kuning bunga Angsana di taman membuat mata setiap orang tak ingin beralih memandang. Hampir setiap orang yang melintas di muka fakultas usang saya berhenti untuk sekedar berfoto. Sungguh, fakultas usang saya benar-benar nampak cantik kala itu.